Selasa, 09 Desember 2008

Santri Luhur Malang

Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan dan keselamatan pada pengasuh, dewan asatidz, ahlul ma’had dan santriwan-santriwati Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

Mengais Keikhlasan, Tekad Pengabdian dan Komitmen Keilmuan

Ada beberapa hal yang hingga kini terus membekas sebagai hasil tempaan dari Pesantren Luhur selama empat tahun. (Masuk tahun 2001, dan boyong saat harlah tahun 2005). Khususnya tentang nilai-nilai keikhlasan, dan teguh pendirian untuk terus menerus memberikan kemanfaatan pada orang lain. Serta komitmen untuk terus bergelut dengan ilmu. Sebagaimana yang selalu diajarkan, dan disuritauladankan oleh Abah (KH Ahmad Muhdlor).
Betapa rajin dan istiqomahnya beliau untuk ubyak-ubyak ngaji, shalat jamaah, istighotsah dan halaqah. Hampir disemua kesempatan beliau menekankan itu semua. Satu lagi, penekanan untuk tidak hanya kerja (apalagi semata hanya ingin menjadi PNS) tanpa mau belajar dan mengamalkan ilmu serta berbuat untuk orang lain.
Saya masih ingat benar. Bagaimana beliau harus membangunkan saya sebanyak satu, dua bahkan hingga tiga kali jelang shalat subuh. Biasanya, pertama, saat jelang adzan. Karena kamar saya nomor tiga (dihitung dari kamar Kiai Munir), Abah selalu melewati sebelum naik ke lantai II. Sayapun dibangunkan. Ya bangun, tapi Abah pergi, saya balik tidur lagi. Turun dari lantai II, Abah lihat lagi ke kamar, saya pun bangun lagi. Biasanya, saat akan naik mengimami, beliau juga sekali lagi lihat ke kamar. Masya Allah,,,,(nyesel sekali kalau ingat semua itu. Betapa saya merepotkan beliau. Betapa saya tidak bisa bersyukur ,,,)
Oia, tapi ada nilai yang lekat dibenak saya hasil keistiqomahan beliau membangunkan setiap pagi. Saya pikir-pikir (entah jenengan sepakat atau tidak); setiap membangunkan tidur, abah selalu membawa dua benda. Satu tongkat dan satu lagi senter. Saya pernah bertanya-tanya, kenapa tongkat dan senter???. Terlepas dari pikiran nakal hanya untuk memudahkan membangunkan, saya belajar sesuatu dari situ. Bahwa Abah menanamkan; semenjak bangun tidur, kita sudah harus menjadi as like tongkat dan senter. Kasarane saya merasa beliau itu bilang; ” awakmu ndang tangi lan dadio koyo tongkat lan senter”. Tongkat simbol kekukuhan, keistiqomahan dan kebulatan tekad. Sementara senter lambang untuk menerangi atau memberikan kemanfaatkan pada orang lain. Karena memang dalam berbagai kesempatan Abah sering memberi motivasi untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Sekecil apapun bentuk kemanfaatan itu sesuai kemampuan. Jika tidak bisa jadi lampu, jadi lilin, jika tidak juga, jadilah kunang-kunang. Karena kunang-kunang sangat bermanfaat disaat gelap gulita dan tidak ada penerang lainnya.
Sayang seribu sayang saya tidak bisa sangat aktf selama di luhur. Karena berbagai kesibukan dan aktifitas yang saya ikuti. Bahkan saat Mas Arif Fajar jadi ketua tahun 2003, saya sempat dimasukkan dalam Departemen pengembangan penalaran (yang menangani halaqah). Bersama Mbak Cica. Koordinatornya Nur Wakhid (TP UNIBRAW 2000), anak Magelang. Tapi saya mengundurkan diri tanpa sempat berbuat apa-apa. Seingatku, hanya sempat isi forum diskusi dan tekankan pentingnya diskusi dan persiapan yang matang saat halaqah. Saya ingat mengatakan kepada teman2, termasuk santri baru, hindari satu hal dalam pidato. Yakni banyak ah-eh,,,ah-eh( a....e...) ditengah pidato. Karena itu mengacaukan pendengar. Itu juga membuat kepercayaaan pendengar pada pembicara menurun. Meragukan kualitas personal dan isinya. Sekarang saya paham ada satu lagi yang harus dihindari. Yakni gunakan kata ’mungkin’. Pidato itu ungkap dan sambungkan data-data (bisa quran, hadist, atsar, maqolah, qishoh, fenomena, kejadian dan lainya). Juga dipertajam dengan analisa hasil sambungkan data, peristiwa dan ide itu. Gampangnya, kalau pidato ngomong yang pasti-pasti ajalah. Jangan yang mungkin-mungkin.
Saya (Rojiful Mamduh, lahir Jombang 26-2-1983. Nomor dua dari tiga bersaudara) masuk ke Luhur bersamaan dengan masuk Jurusan Administrasi Negara FIA Unibraw pertengahan 2001 (saat ketuanya Mas Zainul Muttaqin Blitar). Sejak kepikiran kuliah memang sudah pingin sama mondok. Karena sebelumnya tidak pernah ( MI di Pulorejo, MTs dan MAN di Genukwatu. Ketiganya di Ngoro). Awalnya daftar ke Gading tapi sudah penuh. Cari-cari dapatnya di luhur.
2001. tahun pertama masuk Luhur senang sekali karena tiap hari ada ngaji dan halaqah yang selalu buka cakrawala baru. Pompa semangat dsb. Hanya saya kurang enjoy dengan ngaji bandongan seperti di Luhur. Karena sejak MTs sampai kelas 2 MAN saya ngaji kitab dan Quran ke kiai kampung dengan sistem sorogan. Bandongan hanya saat bulan puasa, ikut ngaji kilatan di Tebuireng. Itupun pada ramadhan tahun 1999 dan 2000. setelah lulus kuliah sampai ramadhan 2007 kemarin sebenarnya masih juga nyempat-nyempatkan ikut ngaji kilatan.
Puasa tahun 2001 tidak bisa ikut kilatan karena kegiatan di Luhur Full. Saat itu di Unibraw juga ada MTQ Mahasiswa untuk kali pertama. Saya ikut empat cabang yang dlombakan. Tilawah (kalah), hifdzil 1 juz (juara 2), syarhil (grup, harapan 1) dan fahmil (grup, kalah). Tahun 2001 saya mulai kenal Forum Komunikasi Mahasiswa NU Unibraw (FKMNU). Forum tempat anak-anak Unibraw menjaga ritual dan tradisi NU. Semisal manakiban, khotmil quran, dan pengajian2.
Puasa tahun 2002 juga tidak bisa ikut kilatan. Di Luhur Full. Saya juga didapuk sebagai ketua panitia pesantren kilat FKMNU di Luhur. Saya juga menyiapkan sungguh-sungguh untuk MTQ mahasiswa kedua Unibraw. Hasilnya, juara 1 hifdzil 1 juz.
Tahun 2003, (maret) FKMNU adakan bedah buku NU, Agama dan Demokrasi karangannya Pak Ali Maschan di IKA Unibraw. Pembedahnya Pak Ali dan Abah serta Romo Benny. Tahun itu saya sudah mulai kenal IPNU (ikatan pelajar NU) di kampung. Dirikan di Ngoro bulan Juli dan saya ditunjuk jadi Sekretaris PAC (tingkat kecamatan). Ikut MTQ Mahasiswa nasional di Unpad Bandung (kalah total). Mas Lukman Pasuruan (pertanian, 2001) waktu itu juga ikut cabang tilawah.
2003. Saya diminta menjadi imam Masjid Raden Patah Unibraw. Disuruh pilih yang jaher. Maghrib-Isya tidak bisa akhirnya saya pilih Subuh. Jadinya tiap jam 04.00 lompat pagar pesantren terus lari ke kampus tuk Ngimami. Setelahnya balik lagi ke pesantren ikuti istighotsah dan halaqah.
2003. ada lomba menulis santri yang diadakan penerbit Qalam Jogja. 17 tulisan terbaik dibukukan dengan judul ”Presiden dan Wakil Rakyat Idaman Santri”. Dari luhur yang masuk ada tiga. Saya, Mbak Sita (Pertanian Unibraw 2000. asal Blitar. Sekarang kerja di BRI) dan Nur Wakhid (TP Unibraw 2000 Magelang)
2004. di Ngoro ada Dusun namanya Ngepeh (selatannya Ngoro) Desanya Rejoagung. Disitu ada dua gereja, satu pura dan satu masjid. Masyarakatnya campur baur agamanya. Dulunya pernah clas antar pemeluk agam. Tahun 2003 dirikan radio komunitas SBL FM tuk rekatkan persatuan. Acaranya ada mimbar agama. Kristen, hindu dan islam. Tapi islamnya gada yang ngisi. Niat belajar akhirnya saya terima. Ngaji Nasoihul Ibad tiap minggu (dulu Mas Amik-bahrun amiq-lamongan baca itu di Luhur). Jadinya tiap pekan pulang. Mulai 2004 saya juga menjadi Wakil Ketua PC IPNU Jombang periode 2004-2006
2005. Repot ngurusi skripsi. Ngaji di radio ditinggal. Juni wisuda. Tidak tahunya puasa diminta ngisi kajian jelang buka, interaktif di radio SJ FM Jombang (milik Pemkab. Di Jl Pattimura) sebulan full. Karena di pesantren tidak rajin ngaji, jadinya banyak pertanyaan pendengar yang tidak bisa terjawab. Duh, nyesel lagi.
2006. terpilih sebagai Ketua PC IPNU Jombang 2006-2008. puasa kembali diminta SJ FM ngisi lagi sebulan full. Tapi tidak interaktif. Pagi jam 05.00-06.00. bulan nopember diterima jadi wartawan Radar Mojokerto.
2007. Pebruari, setelah 3 bulan training di Radar, saya disuruh milih. Akhirnya mundur dari Ketua PC IPNU karena wartawan Jawa Pos grup tidak boleh merangkap jadi pengurus harian ormas.
2008. diminta masuk kepengurusan PW IPNU Jatim. Sebagai koordinator SCC. Dan kembali ngisi di SBL tiap Kamis sore. Karena hanya Kamis liburnya. Sekarang ganti kitab Irsyadul Ibad (dulu KH Hamzawi baca itu di Masjid Manarul Huda Sumbersari, dekat Luhur, setiap Minggu malam. Minggu paginya, beliau juga baca itu di kantor PCNU Kota Malang. Dan saya selalu menyempatkan diri ikut).
Setahun jadi wartawan saya konsern kerja tok. Karena masih harus adaptasi. Tapi hasilnya tidak puas. Jiwa kering. Karena itu 2008 saya putuskan kembali ngurusi IPNU dan ngaji diradio. Mungkin hanya itu wiridan saya. Sesuatu yang bisa saya lakukan untuk menjaga identitas sebagai santri luhur. Bermanfaat bagi orang lain.
2008. Ortu desak terus agar segera menikah. Usia genap 25. Selain belum ada yang mau, susah cari yang ngerti berjuang juga. Padahal saya hanya ingin seseorang yang bisa support agar terus menjadi lebih terang bagi sesama. Untuk menyepurnakan separuh agama. Bismillah, Hatipun telah mantap, bahwa hanya agama dan agamalah kriteria dan orientasi membangun sebuah keluarga.